Semua karena cinta. Mungkin, itu jawabnya.
Karena cinta, seorang ayah bekerja siang
malam. Seorang ibu rela tak tidur bermalam-malam. Sang kakak,menjaga adiknya
yang pergi sendirian keluar rumah. Sang adik, membagi coklat hasil beli dari
tabungannya kepada kakaknya. Seorang anak, merawat orang tuanya yang tengah
renta. Hmm...
Lagi-lagi karena cinta. Saat seorang
sahabat merengkuh tubuh sahabatnya, lalu memberikan bahu untuk menangis
sesenggukan di sana. Saat seorang sahabat membawakan teh atau susu hangat
untukmu yang kedinginan di fajar hari bersamanya. Saat seorang sahabat
menyelimutimu yang terselimuti dingin di tidur malammu. Saat seorang sahabat
menggapai tanganmu tuk menyeberang kelokan sungai ketika menjelajah bersamanya.
Saat seorang sahabat dengan sigap membantumu bangkit ketika terpeleset di tanah
lumpur cokelat, dan ia membersihkan rokmu yang belepotan. Saat seorang sahabat
menggenggam tanganmu erat kala foto perpisahan. Saat seorang sahabat menepuk
bahumu, meski tanpa kata, ia bersyarat, 'semangat ya!'.
Ya, karena cinta.
Pun, karena cinta pula, seorang hamba
bangun di tengah malam. Mengucek mata yang masih saja ingin menelangkup. Dan
kemudian ia menyebut namaMu, mengesakanMu. Bergegas mengambil air wudhu,
khawatir syetan kembali beraksi. Lalu, ia berdiri mengenakan mukenanya.
Menggelar sajadahnya, dan menyambut takbir, "Allaahu akbar..".
Dimulainya bacaan. Ah, ia tersengguk. Bahkan, saat menyelesaikan ayat awal Al
Fatihah, "Arrahmaanirrahim...". Lebih keras, ia terbata. Ia ulang
tiga kali bacaan, "Iyyaakana'budu waiyyaakanasta'iin". Ia menangis.
Sempat terhenti sejenak. Mungkin, ia tak bisa menahan tangisnya. Lalu,
dilanjutkan hingga usai ayat pembuka itu.
"Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha
haqqa tuqaatihi...", dan seterusnya. Surat Ali Imran 102 mengawali.
Kemudian, dilanjutkan. Dan lagi-lagi, ia sesenggukan. Seingatku, surat ini
sangat disukainya. Dan sepertinya, ia meresapinya. Ya, ia sedang bebincang
dengan Rabb-Nya, dan kemudian, dinasehatkanlah ayat-ayat ini untuknya, untuk umat
manusia. Dan begitu pulalah yang dirasakan seorang yang makmum padanya,
sesenggukan menikmati indahnya ayat. Ah, karena cinta.
Karena cinta, Allah menghadiahkan ayat
Qur'an sebagai petunjuk kita kembali padaNya.
Karena cinta, seorang hamba Allah melantunkan
ayat itu dalam shalat di malamnya yang panjang.
Ya, lagi-lagi, karena cinta, ketika seorang
kawan bertanya, "Kamu tidak apa-apa? Apakah tidak sebaiknya istirahat
saja?"
Karena cinta, seorang kawan menyapa,
"Bagaimana kabarmu hari ini, saudaraku?"
Karena cinta, seorang kawan berkata,
"Sebaiknya, kamu tidak seperti ini, saudariku...", menasehat
kebaikan.
Dan karena cinta, seorang kawan berbisik,
"Aku mencintaimu, karena Allah..."
Masih ada yang lain? Ya.
Sekali lagi, karena cinta, seorang murid
bertemu sang guru. Menyatakan keinginannya belajar. Ia giat, hingga tersitalah
waktu tidurnya. Lalu ia taat, hingga akhirnya ayat demi ayat menjadi karunia
nikmat baginya. Ya, karena cinta, ia memindah ayat Allah dalam dadanya. Hingga
ia penuh, hingga semua terangkum di sana.
Karena cinta. Ia bersendiri dalam sepi.
Menikmat sunyi, dan merasai perbincangan nurani. Nurani yang tentu pasti, jika
iman masih ada dalam hati.
Karena cinta, ia berdatang silaturahmi. Ada
bahagia di hati. Meski tak semudah menyampaikannya dari lisan. Namun,
tertampaklah rindu kepada kawan. Kemudian mereka saling berpeluk. saling
menepuk. Dan akhirnya, air mata mengalir. Tanpa kata. Tapi, hati mereka
berbincang rindu. Ah, indah, sungguh indah.
Karena cinta, ia mendekati, kemudian
menasehati.
Karena cinta, ia menghampiri, kemudian
berbagi.
Karena cinta, ia mendampingi, kemudian
meringan-i.
Ah, terlalu banyak kisah tentang cinta.
Kisah ini, selamanya (semoga) menjadi kebaikan, jika diuruti dengan tepat. Tak
melenceng aturan illahi, hingga berujung laknat. Naudzubillahi mindzalik.
Karena, cintalah, yang kemudian menjadikan
iri para sahabat sebab dirindui oleh Rasulullah, "Siapakah mereka?",
tanyanya. Ya, "Mereka, adalah dua orang yang bertemu dan berpisah karena
Allah ta'ala... Mereka saling mencintai karena Allah..."
- Rabbi, semua cinta itu, lagi-lagi aku
mengatakan, "Karena cinta!", dan semuanya, hadir dan terasai, adalah
semata karena cintaMu pada kami... Lalu, mengapa masih ada yang merasa sendiri?
"Laa tahzan, innallaha ma'ana..." Semestinya, ayat ini menjadi bukti
bahwa cinta-Mu selalu menemani -
Ketika wajah ini penat memikirkanya...
Ketika tangan ini letih tuk capai harapan...
Ketika pundak ini terasa berat tuk memikul
beban Amanah MU...
Ya
Robb terimalah sujudku dlm hit waktuMu....
tuk
bisa iklaskan semua padaMU...
Agar
bisa tunduk disaat yang lain Angkuh padaMu...
Agar
bisa TEguh disaat yang lain Runtuh dgn ujianMU...
Agar
bisa tetap hati ini tegar disaat yang lain Terlempar melupakanMu...
dari tulisa seorang ikhwah. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar