Kamis, 24 Januari 2013

hanya bisa bilang maaf...


Ternyata, menyakiti itu mudah sekali. Lillahi, jangan biarkan kezhaliman demi kezhaliman ini membuatku melangkah jauh dariMu. Karena sedetik pun tak pernah terlintas di hati dan pikiranku untuk melenggang pergi dari jalan juang yang terlanjur ku cintai..

Pernah satu kali dalam hidupku, Kau begitu dekat dalam hidupku. Aku semakin dekat dengan kalam—Mu. Aku merasa begitu mencintai-Mu. Lalu kupinta agar bisa menatap wajahMu kelak di syurga. Duhai, memuliakanMu aku merasa mulia. Lalu entah bagaimana ceritanya, mulia berubah jadi jumawa. Aku tergelincir jatuh. Mimpiku runtuh. Lalu berbisik hatiku, mungkin bukan aku. Mungkin bukan aku yang kelak kau janjikan menatap wajahMu..



Pernah pula ada harap di hatiku akan sesuatu. Aku menginginkannya, tapi tak pernah terkata. Sudah di depan mata walau setelah itu tak pernah menjadi yang ku punya. Ia berkelok di depanku. Menghindariku. Ya, aku berkata lagi. Mungkin bukan aku. Bukan aku. Betapapun kuat harapku akan itu, betapapun aku pikir aku pantas untuk itu.



Setelah itu, usai dari shalatku, aku berdoa kepadaMu. Tapi tunggu, sejenak doaku terhenti, demi melihat teman sebelahku berdoa lebih khusyu. Kupandangi wajahnya, aku terenyuh. Ah, mungkin Kau sedang mendengar doaNya. Sedang aku lebih sering memaki-maki, tak tahu diri. Hmmm, memang bukan aku. Aku yang meminta jannah tertinggi. Tapi tak akan kudapati. Karena bukan aku.








Aku punya teman yang baik. Berkali-kali ku hujamkan kata jahat untuknya. Ku buat hatinya rusak karena ucapanku. Dan saat sampai kesadaranku, aku sesalkan semuanya. Tapi terlambat, walau sudah kutebus dengan maaf, tetap ada bekasnya. Kadang kulihat luka di matanya, menatapku. Ah, memang bukan aku. Muamalahku sangat buruk..



Dan semuanya bertumpuk dalam diriku. Aku malu, tapi masih ada harap itu.

Kuat, semakin kuat. Walau terasa semakin berat.

Betapapun tak pantasnya aku, dengan segala hitamku.

Aku masih ingin.

Sungguh, walau ku ucap keluh, aku semakin rindu.



Maka tamparlah aku sahabat. Bawalah aku keinti ayat. Karena aku ingin tamat dengan sebaik—baik riwayat. Ku mohon,tak sesuatupun yang hentikan langkahku. Betapapun semakin hari, semakin tak pantas lisanku menyimpan hapalan, aku tak akan diam. Membiarkan hatiku akhirnya menyerah, lalu  bergumam : Mungkin bukan aku.
Aku memang bukan mahasiswi yang paling pandai dikelas ...tapi bisa aja aku menjadi seorang yang kutu buku menerapkan moto tiada hari tanpa belajar...tapi



Maka untuk yang satu ini, tak sudi aku menyudahinya dengan kata itu. Aku pasti mampu.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar