Rasanya berat untuk memikul suatu amanah..
Tatkala semua masalah bertumpuk menjadi satu…
Tatkala semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing…
Tatkala melawan sifat egois dan individualis yang telah terpaut dalam diri ini…
Tatkala memikirkan kepentingan orang lain…
Waktu, tenaga, pikiran, harta seluruhnya dikorbankan..
Demi mencapai ridhoNya… Wahai saudariku…
Pasti saudariku lelah, karena tidak hanya memikirkan belajar menuntut ilmu agama…
Pasti saudariku lelah, karena tidak hanya memikirkan urusan kampus,
Pasti saudariku lelah, karena tidak hanya memikirkan urusan pribadinya,
Namun, di samping itu para pejuang dakwah muncul untuk bisa menegakkan agama Allah..
Ia berusaha untuk mengamalkan dan mendakwahkan kepada orang lain
Kelelahan di dunia ini-InsyaaAllah- berbuah hasil..
Janganlah takut saudariku, ingatlah..
Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan yang sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesusatu pun.(Q.s. An-Nuur: 55).
Berdakwah tidak hanya berceramah di depan khalayak ramai, bisa lewat tulisan, bisa dengan menyebarkan pamflet, mengajar anak-anak TPA,dll. Ingat, perkataan Abdullah bin Mubarak:
“Berapa banyak amal yang kecil menjadi besar nilainya karena niat. Dan berapa banyak amal besar menjadi kecil nilainya dikarenakan niat.”
Ya, berdakwah tidak hanya dia berbicara di depan, dengan dia menyebarkan pamflet dengan hati yang ikhlas ia bisa menjadi perantara mendapatkan hidayah bagi orang lain. Dengan dia menyediakan tempat kajian, membersihkan tempat kajian untuk para penuntut ilmu, menyebarkan info tentang kajian lewat sms, medsos, mengajarkan iqro’ untuk anak-anak TPA dia pun bisa mendapatkan pahala di dalamnya. Maka dari itu, banyak sekali pahala yang bisa kita cari sebenarnya untuk berusaha mengumpulkan amalan sholih di dunia ini. Walau dipandang hanya amalan yang kecil dan disepelekan, tapi karena niatnya maka ia akan berbuah pahala yang besar.
Terdapat perkataan yang sangat indah dan menyentuh hati yaitu dari Walid bin Sa’id Bahakam dalam kitabnya Al-Akhfiyaa’ al-Manhaj wa as-Suluk:
Salah satu sebab datangnya pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, dan diterimanya amal adalah kehadiran hati yang ikhlas. Ketidakhadiran hati yang ikhlas inilah yang menjadi kelemahan kebangkitan Islam saat ini. Hati seperti ini mewarnai periode pertama Islam, namun tidak banyak disinggung oleh orang yang semestinya bertugas menyerukan kebenaran.
Itulah hati yang ikhlas, yang tidak memandang kedudukan dan tidak pula mengharapkannya.
Itulah hati yang ikhlas, yang tidak peduli dimana dia berada di jalan dakwah, tak peduli di depan atau di belakang, selagi dia tetap teguh di jalan dakwah kepada Allah Ta’ala. Itulah hati yang ikhlas, yang tidak merasa bosan atau gundah, dan yang menyibukkan diri dalam aktivitas dakwah.
Ya Allah, sibukkanlah kami dalam kebenaran dan janganlah Engkau sibukkan kami dalam kebatilan.
Itulah hati yang ikhlas, yang tak kenal waktu dalam melakukan dakwah, dan tak kenal batas akhir untuk berdakwah, dan selalu menjadikan setiap detik kehidupannya untuk berdakwah dan mewakafkan diri untuk dakwah.
Itulah hati yang ikhlas, yang tak pernah berbuat untuk kepentingan pribadi tertentu maupun kelompok, serta tidak untuk mendapatkan kesenangan dunia. Namun, dia berbuat demi keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.
Itulah hati yang ikhlas, yang maju ketika orang lain mundur, yang teguh ketika orang-orang tergelincir, yang sabar ketika orang-orang terguncang, yang lemah-lembut ketika orang-orang bertindak bodoh, yang memberi maaf ketika orang-orang merampas hak-haknya.
Itulah hati yang ikhlas, yang di dalamnya tidak ada tempat sekecil jarum pun untuk ditempati kedengkian terhadap orang Muslim.
Itulah hati yang ikhlas, yang tidak mengenal kepentingan diri sendiri, tapi mendahulukan kepentingan orang lain.
Itulah hati yang ikhlas, yang tidak bisa tidur memikirkan kondisi Islam.
Tetaplah berjuang di jalan Allah di atas manhaj yang haq ini, manhaj as-Salafush Shalih, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada si penulis dan antunna, dalam menuntut ilmu, beramal dan berdakwah. Semoga Allah memberikan keikhlasan dan ketakwaan di dalam hati kita semua.
sumber : Blog Qaanitah
